Sejarah Kiai Sedo Masjid Penyebar Dakwah Islam Di Surabaya

0
94

Indopost.co – Ada makam lawas di jantung Surabaya, makam Kiai Sedo Masjid. Lokasinya persis di seberang pintu masuk Tugu Pahlawan. Banyak orang abai dengan makam ini sehingga pernah terancam digusur. Padahal dia sosok sufi berpengaruh di masa Surabaya ketika masih berupa kerajaan kecil.

Kompleks makam ini sebenarnya tidak utuh lagi. Tanahnya sudah dikepras hampir separo ketika proyek pelebaran Jl Tembaan dilakukan tahun 1980. Pada 6 Februari 1987 makamnya dipugar. Namun pada 1990-an, ketika proyek renovasi Tugu Pahlawan digarap, kawasan Kampung Kawatan, termasuk kompleks makam ini akan digusur dan diganti menjadi taman dan pintu masuk jalan bawah tanah menuju Tugu Pahlawan.

Untung proyek itu gagal. Namun bukan berarti makam ini ideal. Saat ini saja, makam utama yaitu pusara Kiai Sedo Masjid begitu bising karena mepet dengan jalan. Di sebelahnya ada makam Pangeran Pekik, adipati atau raja kecil Surabaya segenerasi Mbah Brondong. Belasan makam lain yang diduga santri Sedo Masjid dimakamkan berserakan di sekelilingnya.

Nafandi, seorang tua yang membersihkan makam ini ketika ditemui Surya, Rabu (26/8), mengatakan sang kiai dianggap berjasa mengawal penyebaran Islam di Kerajaan Surabaya setelah datangnya Sunan Ampel. Katanya, banyak peziarah yang meyakini, Kiai Sedo Masjid adalah wali Islam sehingga makamnya dibuat bersanding dengan sang pangeran. “Beliau wafat di dalam masjid sehingga dikenal dengan nama Sedo Masjid,” katanya.

Namun sesungguhnya literatur tentang sang kiai sangat minim. Begitu miskinnya catatan tertulis, sosok Sedo Masjid nyaris tenggelam dalam ingatan sejarah Surabaya. Makamnya selalu lengang, hampir setiap hari dikunci. Bahkan di bagian belakang dijadikan tempat pedagang kaki lima menyimpan lapak.

Minimnya literatur membuat makam ini lebih banyak menyimpan kisah mistis ketimbang sejarah Mbah Sedo Masjid. Banyak yang yakin pada zaman perang 10 November, makam ini tidak hancur padahal di sekelilingnya luluh dibom Inggris. Selain itu tidak lagi cerita lain.

Asal-usulnya juga menjadi perdebatan. Beberapa buku tentang sejarah Mataram sempat menyinggungnya. Nama lahirnya Badrun. Dia keturunan bangsawan Mataram Kartosuro yang sekeluarga lari ke Surabaya demi sebuah ajaran baru usai runtuhnya Hindu.

Badrun memiliki empat saudara yang dimakamkan di Bungkul sekompleks dengan makam Sunan Bungkul, di Sentono Boto Putih, di Singosari Malang, dan di kampung asalnya Kartosuro, Jawa Tengah. Mbah Sedo Masjid adalah pendiri Masjid Jamik Keraton Surabaya. Lokasinya tidak berjejak. Namun jika melihat struktur kota di Jawa, masjid itu kira-kira kini menjadi kantor sebuah bank di seberang barat Tugu pahlawan.

Sementara tanah yang sekarang menjadi Tugu Pahlawan dan kantor BI semula adalah adalah alun-alun atau kebon rojo. Bagian selatannya keraton, sisi utaranya rumah adipati, dan bagian timurnya pasar besar.

Badrun menjadi Imam besar masjid keraton itu. Tidak ada keterangan kapan dan apa penyebab dia meninggal, meskipun diyakini di masjid itulah sang kiai dijemput maut. Jika benar Mbah Sedo Masjid meninggal di zaman Pengeran Pekik yaitu 1625-1659, diduga kematiannya ini terkait dengan konflik sang pangeran dengan Kerajaan Mataram. Ini masa-masa yang mengakibatkan pecah perang hebat antara dua kerajaan pedalaman dan pesisiran ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

÷ 2 = 1

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.