Santri Jadi Penggerak Ekonomi Dan Pembangunan

0
33

Indopost.co – Ponpes Mardiah Jl Agus Salim, Tanjung Karang, Lampung, telah berlangsung kegiatan menyemarakan Hari Santri, pada 28 Oktober 2018.

Semarak itu digelar GP Ansor Kota Bandar Lampung, mengangkat tema “6 optimisa. Menciptakan dan membangun wawasan pola pikir dan semangat santri berkemandirian ekonomi turut serta berperan aktif guna kemajuan Islam dan NKRI.

Kegiatan dihadiri oleh sekitar 65 orang. Hadir sebagai nara sumber dari kalangan akademisi, Suhendar,   Mustakim Romli selaku perwakilan santri, KH Hanif selaku PCNU Kota Bandar Lampung.

Dalam pemaparan Suhendar, menyatakan salah satu pakar ekonomi syariah adalah KH Maruf Amin memberikan satu definisi yang jelas terkait ekonomi.

Lebih lanjut Suhendar menerangkan bahwa santri harus belajar dan berlatih serta usaha untuk bisa menunjang sumber daya santri. santri juga harus mampu bertindak.

“Diharapkan ponpes ke depan tidak hanya membahas kitab, tetapi harus membahas wirausaha yang berkelanjutan agar bisa sukses untuk menunjang kehidupan di masa mendatang. Masyarakat jangan takut dengan tantangan, untuk mendukung pengembangan diri,” katanya.

Dilanjutkan, dengan ekonomi kuat syariah maka muslim akan menjadi kuat. Ekonomi syariah dicetuskan oleh KH Maruf Amin.

“Ciri ekonomi syariah adalah aqidah, syariah dan aklaq. Aklaq sebagai parameter dalam proses optimalisasi kegiatan ekonomi,” tambahnya.

Dia menyebut, perbedaan dasar sistem ekonomi Islam dan konvensional, yaitu ekonomi Islam dari wahyu untuk kebahagian dunia akhirat, harta bukan tujuan hidup tetapi sebagai wasilah.

“Sedangkan ekonomi konvensional adalah buah pemikiran manusia, dunia saja dan harta sebagai tujuan utama,” selanya.

Sementara, Mustakim Romli, mengatakan santri dulu dipandang sebelah mata oleh masyarakat, tetapi saat ini santri  menjadi pemegang kunci persatuan di Indonesia.

Sebagai santri banyak belajar dari sejumlah tempat untuk menempa kesuksesan. Dihari santri harus lebih dalam menimba ilmu santri, jangan hanya pada android yang lebih banyak menghabiskan waktu.

“Dengan taaruf seorang guru maka masalah rejeki tidak akan berkurang. Menjadi santri harus lebih semangat untuk menyiasat dunia digital. Dalam islam sinyal untuk sejahtera banyak, tetapi kita tidak memperhatikan,” ujarnya.

Sedangkan KH Hanif menyampaikan,  menjadi warga NU merupakan yang luar biasa. NU merupakan tempat diskusi, berzikir.

“Menjadi NU dijamin sejahtera. Kewajiban yg harus dipikul oleh semua warga NU adalah harus bisa jaga Islam ahlisunnah waljamaah dan adalah jaga NKRI. Karena NU bergerak tidak hanyak untuk dirinya, tetapi untuk negara dan akhirat,” tandasnya. (JPN)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

39 − 35 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.