Proyek Kereta Cepat Molor Dan Biaya Mengkak

0
124

Indopost.co – Menteri Koordinator Kemaritiman, Luhut Binsar Panjaitan, kembali menggelar rapat membahas proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung. Rapat tersebut dihadiri oleh Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan, PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) dan PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI).

Evaluasi memang terus dilakukan pemerintah karena proyek tersebut belum juga terealisasi meski telah groundbreaking sejak 2016.

Luhut mengatakan, evaluasi akan dilakukan dalam satu bulan ke depan untuk mengetahui masalah yang menjadi kendala proyek tersebut.

“Sekarang saya mau evaluasi, saya disuruh evaluasi. Presiden ingin tahu, kenapa. Pokoknya saya mau dalam satu bulan ini sudah dapat bentuknya, ini gimana, apa yang terjadi,” katanya dikutip dari Antara, Senin (8/1).

Dengan evaluasi tersebut, Luhut mengaku proyek tersebut akan berada di bawah koordinasi Kementerian Koordinasi Bidang Kemaritiman karena masuk ranah program kementerian di bawah koordinasinya. “Kira-kira begitu, karena ini kan masalah perhubungan, di bawah saya juga,” katanya.

Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi mengatakan, evaluasi dilakukan sebagai upaya pemerintah mendapatkan solusi atas proyek yang belum juga terealisasi itu.

Biaya proyek membengkak

Pelaksana tugas (Plt) Direktur Utama PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC), Dwi Windarto menyebut bahwa nilai proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung bertambah semula USD 5,9 miliar menjadi USD 6,071 miliar. Kenaikan tersebut disebabkan adanya beberapa komponen proyek yang berubah.

“USD 5,9 miliar jadi USD 6,071 miliar sudah lama kok,” kata Dwi saat ditemui usai rapat di Gedung Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman, Selasa (20/2).

Adapun hal-hal yang menyebabkan adanya kenaikan di antaranya adalah adanya perubahan rencana pembangunan jalur di sejumlah titik dari melayang menjadi memakai terowongan. Selain itu, nilai asuransi proyek dan komponen debt service reserve account (DSRA) yang membengkak. Tambahan-tambahan tersebut membengkak hingga USD 100 juta dari nilai awal sebelum adanya perubahan.

“Asuransi dan DSRA, debt service reserve account. Jadi reserve account yang harus ditanggung KCIC karena pinjaman,” ujarnya.

Dwi menjelaskan, dari seluruh angka tersebut tidak seluruhnya berasal dari pinjaman China Development Bank (CDB), namun sebagian lagi berasal dari ekuitas perusahaan yang memiliki 60 persen saham di KCIC dan Beijing Yawan yaitu PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) serta konsorsium lima BUMN China yang memiliki 40 persen saham di KCIC.

“75 persen dari CDB 25 persen dari ekuitas pemegang saham.”

Proyek kereta cepat Jakarta-Bandung akan memiliki empat stasiun, yakni Stasiun Halim, Stasiun Karawang, Stasiun Walini dan Stasiun Tegalluar (Bojongsoang, Kabupaten Bandung).

Proyek kereta cepat Jakarta-Bandung juga akan dilengkapi dengan kawasan terintegrasi dengan moda transportasi masal atau transit oriented development (TOD) di tiga titik yaitu Karawang, Walini, dan Tegalluar.

Sebelumnya, investasi awal proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung, yaitu USD 5,1 miliar. Jalur kereta yang membentang 142 kilometer tersebut menembus sembilan kabupaten-kota sepanjang di Provinsi Jawa Barat dan Provinsi DKI Jakarta. (mdk/idr)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

− 7 = 3

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.