Pelajaran yang Kita Dapatkan dari Wasit Kontroversial Shaun Evans

0
139

Indopost.co – Wasit adalah pengadil di atas lapangan. Wasit yang baik belum tentu adalah wasit yang benar. Meski kedua hal itu memiliki korelasi, karena wasit yang benar (artinya banyak membuat keputusan yang benar secara teknis) akan memiliki rekam jejak yang baik, sehingga akan terus dipakai dan memungkinkannya untuk menjadi wasit papan atas.

Mengharapkan wasit selalu bertindak benar adalah harapan yang palsu alias PHP. Bahkan dari sosok wasit terbaik dunia, sebut saja Pierluigi Collina, kita bisa mendapatkannya melakukan kesalahan.

Memisahkan persepsi kita antara wasit yang benar dengan wasit yang baik adalah sebuah keharusan. Pada pertandingan Persija Jakarta melawan Persib Bandung barusan (03/11/2017), tidak perlu basa-basi dan banyak kajian lagi, wasit Shaun Evans telah melakukan kesalahan dengan tidak mengesahkan gol Ezechiel N`Douassel.


Jika masih ada yang tidak percaya wasit telah melakukan kesalahan, bisa disimak baik-baik cuitan di atas maupun video-video tayangan ulang yang pastinya sudah menjadi viral saat ini.

Evans mungkin punya banyak alasan yang membuatnya melakukan kesalahan itu. Bisa jadi ia benar-benar sedang tidak melihat. Bisa jadi pandangannya terganggu oleh pertandingan yang saat itu sedang hujan. Bahkan bisa jadi juga ia sengaja melakukan kesalahan (meski kemungkinannya kecil, ya). Semua kemungkinan bisa terjadi, sampai teori konspirasi sekalipun meski untuk pertandingan yang tidak menentukan gelar juara atau degradasi ini.

Wasit bisa melakukan kesalahan, tapi harus tetap tegas

Sayangnya, perkara kita tidak lantas selesai di wasit yang salah atau benar (atau umumnya adalah wasit g*blok atau pintar), melainkan bagaimana kemudian wasit bisa bertindak baik. Wasit bertindak baik jika ia menjalankan tugasnya dengan baik (bukan dengan benar), yaitu memimpin pertandingan.

Wasit yang baik adalah ia yang menunjukkan ketegasannya. Entah keputusannya salah atau benar, wasit tetap harus tegas. Evans telah bertindak baik dengan berlaku tegas, tetap pada prinsipnya jika gol Ezechiel tidak sah. Evans telah bertindak dengan profesional karena ia mampu menjalankan tugasnya dengan baik.

Maka dari itu, yang berlaku tidak baik (bukan tidak benar) adalah mereka yang tidak mau melanjutkan pertandingan karena kesalahan Evans ini.

Secara luas, kita juga bisa menilai ketegasan Evans yang sempat memanggil Persib untuk keluar dari lorong pemain sebanyak dua kali. Entah apa yang sedang dilakukan para pemain Persib saat itu sampai mereka terlambat keluar ke lapangan sehingga babak kedua tertunda empat menit. Bisa jadi karena masih protes. Bisa jadi karena kebelet kencing berjamaah. Bisa jadi karena hal lainnya. Lagi-lagi, banyak kemungkinannya. Tapi lagi-lagi juga, Evans menunjukkan ketegasannya.

Tugas wasit memimpin pertandingan, tugas pemain ya bermain

Kekesalan Persib memuncak ketika Vladimir Vujovic mendapatkan kartu kuning dan kartu merah dalam jangka waktu yang singkat, yaitu saat melanggar (menghasilkan kartu kuning) dan saat melakukan protes dengan berlebihan (menghasilkan kartu merah).

Pengusiran Vujovic bukan menyoroti kesalahan wasit, meski bisa juga seperti itu (anggapan wasit melakukan kesalahan karena tidak seharusnya pelanggaran dan/atau tidak seharusnya kartu merah); tapi lebih kepada kekesalan yang sudah tidak bisa tertahankan oleh Persib. Kekesalan karena mereka tidak bisa menerima jika wasit melakukan kesalahan demi kesalahan, yang bukan kebetulan juga merugikan mereka.

“Saya mendapat pesan dan video bukti bahwa Persib Bandung telah dicurangi. Gol Persib jelas sah di video itu,” kata Umuh Muchtar pada konferensi pers pasca pertandingan. “Wasit tidak jelas, jika dilanjutkan sama saja.”

Padahal jika Persib paham dan mengerti tugas dan kewajiban wasit, maka kekesalan tersebut tidak akan sampai tercermin pada keputusan mereka menghentikan permainan. Tugas para pemain adalah bermain sebaik-baiknya (bukan sebenar-benarnya), sementara tugas wasit dan para asistennya adalah memimpin pertandingan sebaik-baiknya (bukan sebenar-benarnya).

Karena memimpin pertandingan, keputusan wasit akan sangat memengaruhi pertandingan. Ia punya kuasa penuh. Kuasa yang kadang disalah gunakan, yang kadang juga menimbulkan kesalahan, termasuk kuasa untuk memutuskan pertandingan selesai dengan kekalahan WO untuk sebuah kesebelasan. Masalah benar atau tidaknya, bisa didiskusikan di luar lapangan (melalui komisi disiplin), tapi di dalam lapangan wasit adalah pihak yang memimpin, yang berkuasa.

Kesalahan, bisa lebih dari satu (bahkan seringnya begitu), adalah yang membentuk pertandingan sepakbola. Pertandingan sepakbola robot yang diprogram untuk sempurna dan tanpa kesalahan (misalnya gim) saja bisa menghasilkan kesalahan, kok.

Tidak boleh ada “diskusi” di pinggir lapangan tanpa izin wasit

Setelah kesal secara akumulatif dengan wasit yang berlaku tidak benar (bukan tidak baik), Persib memutuskan menghentikan pertandingan. Mereka bergerak secara bersama-sama ke pinggir lapangan, bersama dengan manajer mereka, Umuh Muchtar.

“Perlu disampaikan, kt semua sdang diskusi dgn niatan mau melanjutkan pertandingan. Tiba2 wasit menghentikan pertandingan tiba2 (sepihak),” tulis Achmad Jufriyanto, penggawa Persib, melalui akun Twitter-nya.

Diingatkan lagi, sebelum dimulainya babak kedua, Persib sudah dua kali mendapatkan peringatan. Maka, peringatan selanjutnya adalah peringatan ketiga, dan wajar jika wasit menunjukkan ketegasannya pada saat sebuah kesebelasan sudah diperingatkan sebanyak tiga kali, sehingga memutuskan Persib kalah secara sepihak.

Masalahnya, “diskusi” yang mereka lakukan di pinggir lapangan terjadi tidak atas izin dari wasit, bagaimanapun wasit adalah pemimpin pertandingan. Jika kesebelasan menghormati dan bersikap profesional, maka mereka akan meminta izin kepada wasit. Perkara diizinkan atau tidak, itu beda lagi.


Sebenarnya dalam situasi normal, memberikan instruksi secara berjamaah di tengah pertandingan, meski dilakukan di pinggir lapangan, adalah hal yang tidak dibolehkan. Apalagi kita juga bisa melihat jika manajer dan ofisial Persib meninggalkan area teknis mereka. Jadi, kenapa wasit memutuskan WO secara sepihak? Itu terjadi karena wasit menunjukkan ketegasannya.

Bedanya “mogok” di Solo dengan di Tenggarong

Banyak dari kita yang mungkin membandingkan kejadian serupa yang terjadi di Tenggarong, saat Persib menghadapi Mitra Kutai Kartanegara (Kukar menang 2-1 pada 15 Juli 2017), yang kebetulan juga di-tweet oleh Jupe: “Tanpa tanya terlebih dahulu. Apa itu WO?sdgkan di tenggarong, kt disuruh tggu sampai 2×15 menit, saat mitkur tdk mo melanjutkan pertandingan”

Yang terjadi mungkin sama. Tapi mau tahu bedanya? Bedanya adalah di Tenggarong wasit Prasetyo Hadi (wasit lokal) terkena “gertakan” Kukar, sementara di Solo wasit Shaun Evans (wasit asing atas Australia) tidak terkena “gertakan” Persib.

Kukar yang melakukan mogok akibat keputusan wasit memberikan hadiah penalti untuk Persib dianggap tidak benar. Pada kenyataannya, keputusan bisa diperdebatkan, meski cenderung keliru (artinya tidak seharusnya penalti) jika dilihat secara seksama, baik dari kekuatan kontak maupun tempat kejadian kontak.

“Gertakan” Persib kepada wasit Evans ternyata tidak mempan. Beda mungkin jika diterapkan kepada wasit lokal (bukan bermaksud menggeneralisasi). Evans menunjukkan jika ia sudah bertindak baik dengan berlaku tegas.

Persepsi keadilan yang keliru: balas dendam

Tidak ada hal yang adil di lapangan. Jika sebuah kesebelasan merasa dicurangi, keadilan tidak akan tegak jika mereka berbalik melakukan aksi yang curang. Begitu juga jika wasit melakukan kesalahan yang menguntungkan kesebelasan A, bukan berarti wasit telah berlaku adil dengan melakukan kesalahan juga yang menguntungkan kesebelasan B yang menjadi lawannya. Kesalahan itu bernilai dua kesalahan, bukan impas.

Hal-hal semacam ini yang harus bisa kita tekankan kepada pemain, wasit, penonton, manajer, staf pelatih, dan lain sebagainya, terutama kepada dua yang disebutkan paling awal.

Wasit bisa melakukan kesalahan tapi ia bisa tetap melakukan kebaikan dengan terus bertindak tegas sebagai pemimpin pertandingan. Pemain bisa melakukan kesalahan tapi ia bisa tetap melakukan kebaikan dengan terus bermain, kecuali ia sudah digantikan oleh pemain lainnya.

Masalah terletak bukan dari pemicunya, tapi dari bagaimana cara kita menyikapi masalah. Dalam satu kasus yang sama, misalnya disalip pengendara di jalan raya, bisa menimbulkan banyak dampak, tergantung bagaimana yang disalip menyikapinya; apakah ia akan membalasnya (menyalip balik, yang berpotensi menimbulkan kecelakaan) atau membiarkannya, bahkan memaafkannya dalam hati (meski yang nyalip belum tentu salah).

Pada laga Persija melawan Persib, Evans telah melakukan kesalahan. Apalagi sebelumnya Evans juga sudah terkenal sebagai wasit kontroversial. Tapi bagaimana cara Persib bersikap adalah cerminan dari konsekuensi yang mereka terima, yaitu kalah WO.

Pelajaran yang bisa kita ambil dari wasit kontroversial Shaun Evans adalah:

Pelajaran bagi wasit Indonesia: lebih tegas. Kualitas wasit itu hal lain (wasit asing belum tentu lebih benar), sementara ketegasan adalah hal lainnya lagi. Dengan mengambil keputusan tegas, Evans justru bisa memutus lingkaran setan “kebiasaan mogok” di Indonesia.
Pelajaran bagi pemain dan manajer: wasit adalah pemimpin pertandingan. Pemimpin itu tidak harus selalu benar, tapi harus dihormati.
Pelajaran bagi penonton: bebas aja lah suporter mah. Tapi memang ada baiknya jika suatu kejadian bisa dinilai dari berbagai sudut pandang.

Respect. Itu adalah kata yang menjadi andalan kita untuk merujuk kepada kawan, lawan, maupun wasit. Jadi, kita juga harus respect alias hormat kepada wasit. Begitulah sepakbola profesional dimainkan. Kecuali sepakbola kita mau begini-begini saja. (Dex Glenniza, Pandit Football.com)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

× 6 = 24

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.