Pak Dirman : Kandang Banteng Bertahun-Tahun Tetap Miskin

0
141

Indopost.co – Mitos Jawa Tengah sebagai kandang banteng alias basis massa PDI Perjuangan ingin dipecahkan oleh calon presiden Gubernur Jawa Tengah yang diusung Partai Gerindra, PKS dan PAN yang Sudirman Said. Keinginan itu karena Sudirman melihat Jawa Tengah tidak ada perubahan signifikan. Dalam pengentasan kemiskinan.

Sudirman bersaudara, Jawa Tengah belang banteng. “Saya tidak nyaman Jawa Tengah disebut kandang banteng. Jawa Tengah harus dikembalikan pada martabatnya, sebagai tempat manusia manusia seutuhnya,” kata Sudirman, saat menerima Masjid Relawan, pemuda Cilacap, dan relawan lintas generasi di markas Perjuangan Merah Putih, Jalan Pamularsih 95, Semarang , Minggu (28/1)

Sudirman menyadari, saat ini ada 17 bupati / walikota di Jawa Tengah yang berasal dari PDIP. Diabah Semarang, Solo, Banyumas, Purbalingga, Brebes, Boyolali. Namun dia seolah tidak mengkhawatirkan kekuatan PDIP.

“Jadi nanti jawab saya kuat dan tim, perangkat, termasuk cawagub, penetrasi ke masyarakat bawah, itu jadi tantangan. Jadi apa betul PDIP itu kuat di mana-mana? Yang akan kami tawarkan adalah figur,” tegasnya.

Dia mengingatkan, kekuatan ada batasnya. Saat sowan ke beberapa kiai, Sudirman teringat pesan Tuhan akan memberi pertolongan pada orang baik.

Sudirman menyoroti kondisi kemiskinan di Jawa Tengah. Angka kejendah Jawa Tengah pada akhir 2017 mencapai 13,58 persen atau ada 4,577 juta penduduk miskin.

“Sebanyak 15 kabupaten masuk zona merah, berarti 20 persen penduduk di 15 kabupaten ini hanya bisa menghidupi dirinya dengan biaya di bawah Rp 10.000 per hari,” kata dia.

Sudirman mengatakan perubahan hanya bisa diraih jika pemimpinnya yang sedang. Jika pemimpin sungguh-sungguh bekerja, maka secara sistem akan bekerja dengan baik.

“Tidak banyak yang tahu, tidak ada jumlah keluarga miskin tersebut, masih ada 15.229.994 jiwa yang terjebak kategori belum sejahtera. Ini cukup mengkhawatirkan,” kata dia.

Sudirman mengajak relawan dan pendukungnya untuk menghadapi dan memecahkan masalah ini. Dimulai dari rumah dengan jalan musyawarah dan gotong royong.

“Saya tidak akan menyuarakan permusuhan, namun perubahan. Memang jalan semakin menanjak, namun kawan yang sering bergabung juga,” ucap dia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

45 ÷ = 5

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.