Orang Gila Versus Ninja, Prakondisi Pilkada?

0
277

Masih ingat, akhir dekade 90 an, kami para santri di sebuah pondok pesantren Kediri mendapat teror isyu “Ninja”. Keresahan merebak, khawatir atas keselamatan kyai kami. Penjagaan, siang dan malam. Persiapan jasady dan ruhy santri untuk menghadapi segala sesuatu. Isyu terus berkembang dan melebar.

Kyai kami tetap tenang, dan menenangkan kami. Kami, para santri, justru yang semakin resah, mendekati paranoid. Mudah curiga dan sensitif terhadap “orang luar”. Umpama kayu, sudah kering dan dilumuri minyak, mudah sekali terbakar. Tapi alhamdulillah dengan bashiroh dan kebijaksanaan kyai kami, situasi terkendali. Dan kehidupan kembali normal.

Isu ninja dimulai dari daerah tapal kuda. Sebuah teror kepada para Kyai yang kritis dan tegas, termasuk pada zaman pemerintahan orde baru. Relatif, dikawasan tapal kuda dan madura, sulit “ditaklukan” oleh penguasa yang tidak simpatik pada perjuangan Islam ulama yang tidak memisahkan Islam dan politik. Kawasa tersebut adalah basis perlawanan terhadap ketidak adilan kepada umat Islam.

Mungkin, bagi kalangan tertentu, isu ninja adalah bagian dari prakondisi untuk menciptakan situasi chaos dan amuk massa dikalangan umat Islam. Walaupun sempat terjadi eskalasi, situasi chaos tidak terjadi.

Dua kejadian terakhir dijawa barat, dua orang ulama mengalami penganiayaan, yang terakhir hingga menemui syahadahnya (insya Allah) tentu membuat kita prihatin. Pelaku diduga “orang gila”. “Orang gila” berbeda, menyerang dua orang ulama yang berbeda. Dari dua ormas yang berbeda. Bagi orang yang berpikir rasional, Probabilitas yang kecil jika itu dianggap sebuah kebetulan.

Jika ditarik garis benang merah, tapal kuda, jawa barat, banten dan jakarta adalah kawasan para ulama pejuang. Kawasan ulama dan santri yang menolak memisahkan Islam dan politik. Kawasan ulama yang kritis terhadap siapapun, termasuk penguasa yang tidaknpro kepada Islam. Yang mutakhir, kawasan tersebut adalah penyumbang masa terbesar Aksi Bela Islam 212.

Tahun 2018, adalah tahun politik di jabar. Tahun yang berpotensi timbulnya konflik horizontal. Tampaknya kejadian yang menimpa dua orang ulama diatas sudah ada yang memprediksi jauh jauh hari sebelum kejadian dan penganiayaan 2 orang ulama diatas berlangsung, sehingga diperlukan pejabat sementara dari kalangan aparat keamanan. Bagaimana menurut Anda?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

+ 59 = 65

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.