Masjid Cheng Hoo Palembang Banyak Dikunjungi Wisatawan Luar Negeri

0
177

Indopost.co – Saat ini pintu gerbang Perumahan Amin Mulia Jakabaring, Palembang, Sumatera Sekata, terlihat dua menara berwarna merah menyala dengan bangunan berarsitektur China yang sekilas terlihat seperti pagoda.

Dua menara masing-masing setinggi 17 meter dan bertingkat lima yang mengapit bangunan utama dengan kubah warna hijau. Setelah dilihat dari dekat, bangunan itu tidak lain adalah komplek Masjid Cheng Hoo, yang saling melengkapi Masjid Al-Islam Muhammad Cheng Hoo.

Saat sedang pintu gerbang, nuansa budaya China sangat terasa. Tidak hanya karena arsitekturnya yang serba merah, tapi juga nama masjid yang ditulis dalam aksara China. Bagian bawah kedua menara dilengkapi dengan tempat berwudhu berukuran 4×4 meter, yang sebelah kiri untuk kaum wanita dan sebelah kanan untuk pria.

Menara dibuat bertingkat lima memiliki arti, yaitu jumlah lima kali salat yang harus dilakukan setiap hari, sementara tinggi menara 17 meter adalah simbol dari jumlah rakaat dalam lima kali salat tersebut.

Di bagian belakang, ada dua buah pendopo dengan atap berarsitektur khas Palembang, yaitu tanduk kambing. Bangunan yang di komplek masjid itu menggunakan campuran arsitektur china dan kebudayaan, sebagai simbol pembauran kedua etnis.

Masjid Cheng Hoo yang berukuran 20×20 meter dan berada di komplek seluas 5.000 meter persegi yang dibangun pada tahun 2006 diatas prakarsa Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI), atau sekarang bernama Pembina Iman Tauhid Islam, bersama Yayasan Mohammad Cheng Hoo Sriwijaya Palembang.

Tanah tempat berdirinya mesjid tersebut merupakan hibah dari Sumatera Selatan saat itu, yaitu Syahrial Oesman.

Pembangunan masjid Cheng Hoo berawal dari semangat anggota PITI yang tidak pernah surut untuk membentuk sebuah wadah yang penting membina iman tauhid anggota mereka yang berstatus mualaf, sekaligus sebagai pemersatu umat Islam secara lebih luas.

Masjid adalah sarana yang paling penting dan strategis untuk mempersatukan umat Islam Tionghoa secara utuh, tempat berkumpul dan memperdalam ajaran Islam secara benar bagi masyarakat keturunan Tionghoa.

Menurut Ny. Maftuhudin yang sehari-hari melayani mesjid bersama suaminya, tidak hanya mereka yang ingin beribadah, tapi juga ingin melihat bangunan yang sekarang termasuk sebagai salah tujuan wisata religi.

“Sekarang sudah banyak turis asing dari luar negeri, yang berasal dari Tiongkok yang datang ke masjid ini,” katanya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

− 9 = 1

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.