Mashrabiya Seni Arsitektur Pelindung Panas Matahari

0
193

Indopost.co. Masa keemasan mashrabiya telah berakhir secara ironis. Bila mulanya mashrabiya dipakai untuk menghalau panas matahari, hias ini bisa lebih berbahaya dari panas sengatan matahari. Masyarakat yang menggunakan mashrabiya takut bahaya kebakaran. Karena kayunya kering, mashrabiya mudah tersambar api.

Semoga bila yang mashrabiya tinggal di jalan sempit, seperti lingkungan masyarakat miskin abad pertengahan. Balkon rumah mereka sangat berdekatan satu sama lain agar mashrabiya terbakar apinya mudah menjalar ke rumah di depannya.

Banyaknya mashrabiya yang tidak lagi digunakan. Hal ini mengusung seni pembuatan mashrabiya menurun secara cepat, terutama setelah meninggal maestro mashrabiya Hassan Abu Said. Pembuatan mashrabiya menjadi sesuatu yang kedaluarsa.

Hassan Abu Said mungkin merupakan pemahat mashrabiya paling baik yang terakhir. Reputasinya terangkat saat para arsitek Muslim memesan ratusan pahatan kayu yang berbelitbelit untuk sebuah mimbar di Masjid Washington DC pada 1960-an.

Mereka tidak hanya membayarnya, tapi juga menerbangkannya ke Ibu Kota Amerika Serikat itu untuk merakitnya langsung. Hal ini memang tidak ada satu pun yang mampu mengubah potongan kecil kayu yang saling berhubungan itu kecuali bernyanyi perajin mashrabiya.

Maestro ini dikenal memiliki banyak koleksi mashrabiya yang ditaruh di atas. Menurut Hassan, meski sudah berumur seabad tidak ada satu pun mashrabiya yang bengkok, pecah, atau susut. Kepergiannya berarti matinya seni pembuatan mashrabiya.

Namun, dengan perkembangan tek nologi, mashrabiya kini hadir dalam bentuk kontemporer. Tidak lagi terbuat dari kayu, namun bahan lain yang tak mudah terbakar. Pemasangannya pun tak lagi langsung di dalam bingkai jendela. Gedung-gedung modern ditutupi mashrabiya yang dipasang di luar jendela, bahkan di luar bangunan. Fungsinya masih sama seperti hijab pada perempuan, tutup ge dung dari terpaan sinar mentari yang nakal.

Adalah arsitek Minoru Yamasaki yang membangkitkan mashrabiya pada gedung yang menjadi ikon kapitalisme dunia, World Trade Center (WTC) di Manhattan New York. Arsitek kesayang an para emir Arab ini, termasuk keluarga Bin Laden, membungkus kedua menara kembar itu dengan ornamen fasad terbuat dari baja yang membentuk mashrabiya raksasa.

Yamasaki yang pabrik terminal Bandara Dahran di Arab Saudi memang menyambangi arsitektur arsitektur dan mencampurnya dengan berbagai bangunan modern yang dirancang di seluruh dunia, termasuk di Amerika. Bahkan, Plaza yang menghubungkan dua menara WTC disebutnya sebagai ‘Mekkah’ dihiasai dengan sebuah bola dan kolam air mancur melambangkan Ka’bah dan mata air zamzam. Maka, saat WTC runtuh, para arsitek muslim pun mera tapinya. Profesor seni Islam Harvard Oleg Grabar menyebut WTC sebagai gedung yang “seluruhnya permukaan, dan setiap bagiannya adalah bangunan sekaligus ornamen.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

77 − 69 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.