Kejadian-Kejadian Sebelum Pengebom Gereja Di Surabaya

    0
    92

    Indopost.co – Matahari belum menampakkan sinarnya ketika Firman Halim, anak laki-laki berusia 16 tahun melakukan sholat subuh bersama ayahnya, Dita Oerpriyarto.

    Salat subuh ini dilaksanakan di sebuah masjid dekat rumahnya di pinggiran kota Rungkut, Surabaya.

    Anak yang ceria dan gembira itu adalah favorit satpam kompleks perumahan, Hery (46).

    Hery sudah menganggap Firman sebagai “adik kecilnya.”

    Tetapi hari Minggu yang lalu (13/5/2018), ada sesuatu yang salah dengan Firman.

    Senyum yang akrab itu hilang. Sebaliknya, remaja itu menangis.

    Ayahnya, Dita Oepriarto (46) terus mengelus kepalanya dan menepuk pundaknya.

    Tetapi Firman tak berhenti menangis.

    Hery datang ke masjid untuk salat Subuh sebelum dia mulai jaga shift pagi.

    Usai salat pun, Hery duduk dekat dengan mereka, Firman dan Dita.

    Dalam keheningan fajar, Hery, mendengar ayahnya berbisik, “bersabar, tuluslah.”

    Tetapi remaja itu tidak bisa dihibur. Dia terus menangis.

    Jerit tangis Firman ini tentu saja mengganggu Hery.

    “Saya ingin bertanya kepada ayahnya apa masalahnya tetapi saya menghentikan diri saya sendiri, karena saya tidak ingin dilihat sebagai orang yang mencampuri urusan orang lain,” kata Hery kepada Channel News Asia.

    Ketika doa berakhir, Firman, ayah dan kakak laki-lakinya, Yusof Fadhil, 18, bangun untuk pulang.

    Pada saat itu, Firman melihat Hery.

    Yang lebih mengherankan adalah untuk pertama kalinya, Firman ini tidak menyapa ataupun tersenyum pada Hery.

    Firman kemudian naik ke belakang sepeda motor dan kakak laki-lakinya Yusof.

    Yang tak disangka Hery beberapa jam setelah salat Subuh, ada berita soal pengeboman Gereja Santa Maria Tak Bercela.

    Pemboman ini terjadi pada pukul 7.30 pagi.

    Hery juga mengaku syok ketika mengetahui kalau Firman dan kakaknya, Yusof adalah orang yang meledakkan bom di gereja tersebut.

    Firman dan Yusof ini mengedarai motor sambil membawa bom di kantong jinjingannya.

    Sebelum masuk ke dalam komplek gereja, seorang jemaat gereja bernama Aloysius Bayu mencoba menghentikan mereka.

    Dua saudara laki-laki, Aloysius dan lima anggota gereja lainnya tewas.

    Lima menit kemudian, ayah mereka, Dita Oerpriyarto mengendarai mobil bermuatan bom ke Gereja Pantekosta Center Surabaya pada pukul 7.35 pagi. Ledakan besar pun tak terelakkan.

    Tak lama setelah itu, istrinya, Puji Kuswati, 42 dan dua putrinya, Fadhila Sari, 12 dan Famela Rizqita, sembilan, melakukan serangan bom terhadap Gereja Kristen Indonesia Diponegoro.

    Dalam 10 menit, seluruh keluarga yang terdiri atas enam orang ini tewas seketika.

    Keganjilan sikap Firman Halim yang menangis ini pun sempat diungkapkan tetangga Dita.

    Binawan Widyarto mengungkapkan fakta lainnya sebelum Dita sekeluarga lakukan bom bunuh diri.

    “Saya duduk bersebelahan di saf kedua bareng Pak Dita,” ujarnya.

    Seperti biasa, usai salat Magrib seperti biasa saling bersalaman.

    Namun ketika salaman dengan Dita, anak laki-lakinya ini menangis.

    Usai salaman, nangis, kemudian Dita dan anaknya berpelukan. Lalu pulang.

    Menurut Binawan, yang berpelukan dan nagis ini merupakan anak kedua Dita, yaitu Firman Halim.

    Binawan mengaku tak sempat menanyakan kenapa anak Dita tersebut menangis.

    Baca: Masjid Raya Bogor Membuka Pendaftaran Pesantren Kilat Selama 3 Hari, Begini Cara Daftarnya

    Dikutip dari Tribun Jabar, sehari sebelum pengeboman, Dita beserta kedua anak lelakinya menunaikan salat maghrib berjamaah di masjid.

    Menurut pengakuan dari Khorihan ketua RT setempat,

    “Mereka masih salat subuh berjemaah sebelum hari pemboman. oh iya, Maghrib sebelumnya anak kedua (Firman) habis salat sempat nangis-nangis terus dirangkul, dicium, dipuk-puk”.

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here

    30 ÷ 30 =

    This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.