Isu Lembaga Publik

0
207

Setahun lebih pasca ane mengundurkan diri dari Ketua Bidang Kebijakan Publik PP KAMMI ane tidak pernah bersinggungan dengan KAMMI namun siang itu tiba-tiba Blackberry jadul yang sempat jadi brand lifestyle berdering kencang.

Ternyata ada telphone dari sahabat lama gan.

” Bro ente tau soal kisruh KRC?”, pertanyaan awal setelah saling mengucap salam dan doa.

“KRC? Masalah apa”, ane balik bertanya.

” Sudah setahun lebih ane off di PP KAMMI. Mundur dari KP KAMMI,” penjelesan sederhana.

” Gini bro aku dapat kabar kalau ada kisruh soal KRC KAMMI,” jelas sahabat ane.

Kisruh KRC KAMMI? informasi itu membuat pikiran ane langsung ingat soal diskusi singkat dengan ketum PP KAMMI di awal tentang perbaikan KRC.

Permasalahan inilah pemantik awal ane kepoin PP KAMMI lagi gan. Nah soal masalah KRC ini ane nggak mau sotoy cuman mau berbagi soal bagaimana mengelola sebuah lembaga publik yang benar khususnya lembaga publik yang menghimpun dana dari masyarakat. Mungkin bakal ada beberapa seri.

Permasalahan lembaga publik yang menghimpun dari masyarakat harusnya menjadi perhatian khusus. KAMMI beberapa kali melakukan penggalangan dana publik ketika ada bencana melalui kader-kader KAMMI di seluruh Indonesia. Nah soal penggalangan dana publik ada beberapa hal penting yang harus diperhatikan. Pertama legalitas lembaga, kedua mengenai penghimpunan dana publik, ketiga kepercayaan transparansi dan akuntabilitas keempat, program dan kelima dampak program.

Pertama, legalitas lembaga merupakan dasar hukum bergerak dari sebuah lembaga publik bahkan legalitas turunan semisal lembaga tersebut menerima wakaf maka lembaga tersebut harus memenuhi syarat-syarat lembaga yang berhak menenrima dan mengelola wakaf.

Kedua, mengenai penghimpunan dana publik. Dunia saat ini berubah dengan cepat akibat kemajuan teknologi dan informasi. Dunia gerakan mahasiswa hari ini tidak bisa dipisahkan dengan TI maka sebuah lembaga publik yang menghimpun dana dari masyarakat harus menggunakan TI sebagai bagian strategi marketing komunikasi dan fundraising.

Penghimpunan dana publik tidak bisa lepas dari branding dan positioning lembaga tersebut. Dua hal ini akan menjadi dasar bagaimana proses marketing komunikasi dan fundraising terhadap segmentasi yang disasar.

Selain hal diatas metode fundraising juga sangat krusial. Metode online digital fundraising via medsos, googel ads, website, android, hingga marketplace dan crowdfunding merupakan trend jaman now. Bukan berarti metode offline sudah jadul. Metode offline mempengaruhi metode online. Metode fundraising via konter, event, proposal ke CSR perusahaan dan kerja sama pemerintah masih bisa dipergunakan.

Lembaga sosial yang bisa menyesuaikan tantangan zaman ialah yang akan bertahan di dunia yang disruption ini.

Ketiga mengenai kepercayaan, transparansi dan akuntabilitas. Jauh sebelum dunia ini disuguhi dengan berbagai macam metode dan lembaga pemberi stempel tentang kepercayaan, transparanai akuntabilitas Islam telah mengajarkanya sejak lampau. Kisah Nabi Yusuf salah satunya. Yusuf mendapatkan berbagai ujian namun setelah berbagai ujian itu dilewati Alloh membuka tabir tentang masalah-masalah yang selama ini disangkakan kepada Yusuf. Pada akhirnya semua terang benderang dan Yusuf kemudian dipercaya mengelola keuangan negara karena pandai menjaga dan memiliki pengetahuan.

” Berkata Yusuf: “Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan”. ( Yusuf : 55).

Transparansi dan akuntabilitas menjadi nama keren dari amanah yang menjadi salah satu sifat kenabian. Maka menjaga kepercayaan, transparansi dan akuntabilitas lembaga publik merupakan sifat yang harus dimiliki oleh lembaga publik khususnya lembaga Islam.

Alangkah bagusnya apabila lembaga Islam bisa menerima predikat Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari akuntan publik kemudian sertifikasi ISO mejadi paramater minimal pengelolaan lembaga sehingga kepercayaa akan terus terjaga.
Isu-isu mengenai sumber dana gelap dari berbagi pihal yang tidak jelas asal muasalnya tidak akan muncul.

Untuk point ke empat dan kelima mengenai program dan dampaknya akan dibahas khusus di tulisan selanjutnya.

Aza El Munadiyan (Aktivis Sosial)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

9 ÷ 3 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.